Siapakah Andreas Schjelderup? Bintang Muda Benfica yang Dua Kali Dikejar Liverpool
Liverpool dikabarkan kembali memantau Andreas Schjelderup. Nama winger Benfica itu muncul setelah penampilannya bersama Norwegia di Piala Dunia menarik perhatian sejumlah klub besar Eropa.
Menariknya, Schjelderup bukanlah sosok asing bagi Liverpool. Beberapa tahun lalu, pemain berusia 22 tahun itu sempat berkesempatan bergabung ke Anfield, namun memilih jalan berbeda untuk pengembangan kariernya.
Sekarang situasinya telah berubah.
Perkembangan Schjelderup bersama Benfica bahkan membuat Jose Mourinho memberikan penilaian yang jauh berbeda dibandingkan saat pertama kali menangani tim Portugal.
Mourinho Berubah Total Terkait Schjelderup
Saat baru mengambil alih Benfica September lalu, Mourinho menyoroti sejumlah kekurangan Schjelderup.
Menurutnya saat itu, sang pemain masih kesulitan menjaga intensitas permainan selama 90 menit dan kurang konsisten saat tim melakukan transisi.
Peluang bermain Schjelderup tak serta merta bertambah. Baru memasuki paruh kedua musim, ia mulai lebih sering dipercaya sebagai starter.
Kepercayaan itu dibayar dengan kinerja yang cukup solid. Dari 20 kali menjadi starter di Liga Portugal, Schjelderup mencatatkan tujuh gol dan enam assist. Sepanjang musim, ia tampil dalam 43 pertandingan di semua kompetisi.
Jelang laga pamungkas musim ini melawan Estoril pada Mei lalu, Mourinho bahkan mengaku terkesan dengan perubahan yang ditunjukkan pemain asal Norwegia tersebut.
“Jika Anda membandingkan Schjelderup beberapa bulan lalu dengan Schjelderup hari ini, itu mustahil. Tidak ada yang bisa dibandingkan. Yang sama hanya wajah mudanya,” kata Mourinho.
Pelatih asal Portugal itu menilai perubahan Schjelderup terlihat dari berbagai aspek, mulai dari fisik, pemahaman taktis, hingga mentalitas.
Mourinho bahkan menyebut sang pemain berpotensi berkembang menjadi talenta hebat jika mampu mempertahankan laju perkembangannya saat ini.
Liverpool Bukan Minat Baru
Ketertarikan Liverpool terhadap Schjelderup sebenarnya sudah ada sejak lama.
Saat berusia 16 tahun, Schjelderup mengungkapkan dirinya sempat menolak kesempatan bergabung dengan The Reds pada 2020. Saat itu ia lebih memilih melanjutkan karier bersama FC Nordsjaelland.
Keputusan ini tidak mudah baginya.
Schjelderup mengaku tergoda saat mengetahui Liverpool tertarik merekrutnya. Namun dukungan ayah dan agennya membuatnya percaya diri mengambil langkah yang dianggapnya paling tepat untuk pengembangan karirnya.
Menurut Schjelderup, bergabung dengan Nordsjaelland memberinya jalan yang lebih cepat ke tim utama dibandingkan harus memulai di level akademi di klub-klub besar.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Ia bahkan merasa mampu menembus tim utama lebih cepat dari perkiraan klub.
Saat itu, Schjelderup pun mengaku peluang ke klub besar tetap terbuka di masa depan, namun langkah tersebut ingin ia ambil ketika sudah benar-benar siap.
Bersinar Bersama Norwegia
Di Piala Dunia, Schjelderup menjadi bagian dari skuad Norwegia yang juga diperkuat Erling Haaland.
Meski lebih sering tampil dari bangku cadangan, ia berkontribusi saat Norwegia meraih kemenangan atas Irak dan Senegal.
Norwegia memastikan tiket ke babak 32 besar usai menang 3-2 atas Senegal pada Selasa pagi WIB. Dalam laga tersebut, Haaland mencetak dua gol.
Performa Schjelderup di level internasional disebut-sebut membuat sejumlah klub kembali memantau perkembangannya. Selain Liverpool, Tottenham Hotspur, Atletico Madrid, AC Milan, dan Como juga dikabarkan mengikuti perkembangan tersebut.
Opini Gilabola.com
Keputusan Schjelderup menolak Liverpool pada 2020 sepertinya bisa menjadi langkah tepat.
Alih-alih tersesat di akademi klub besar, ia justru mendapat lebih banyak waktu bermain dan ruang untuk berkembang.
Perubahan sikap Mourinho dari kritik pedas menjadi pujian besar pun menunjukkan bahwa perkembangan pemain tersebut bukan sekedar hype sesaat.
Schjelderup tampaknya semakin dekat untuk mengambil langkah besar dalam karirnya ke level yang lebih tinggi.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.